Tampilkan postingan dengan label Hukum dan Kriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukum dan Kriminal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2009

Isu HAM tidak Diperlukan lagi di Aceh

Tim Aceh Based Research di gedung Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA) mengumpulkan laporan dan membukukan tentang peranan demokrasi dan keadaan kaum sipil di Aceh, khususnya setelah pemilu 2009. Penilitian yang melibatkan 200 responden ini diketuai oleh pakar politik dari Norwegia, Profesor Olle Tornquist. Buku tersebut ikut mengundang kontroversi di kalangan pakar politik, karena dinilai tak menyinggung persoalan HAM ketika dievaluasi di aula gedung BRA, Senin (31/8), yang dihadiri oleh pakar politik, praktisi hukum dan pakar antropologi.

“Dari hasil temuan oleh responden yang berasal dari berbagai kalangan LSM sejak tahun 2006 disimpulkan, masyarakat Aceh sama sekali tak menyinggung masalah Hak Asasi Manusia (HAM) maupun Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Cuma asosiasi petani yang berbicara soal itu. Masyarakat lainnya hanya angkat bicara mengenai isu ekonomi. Mereka merasa puas dengan perdamaian yang terwujud tanpa menuntut penegakan hukum pelanggaran HAM di Aceh pada masa konflik. Jadi, dari temuan tersebut kami menganggap, isu HAM tak diperlukan lagi di Aceh,” jelas Olle.

Mukhlis, dari Forum LSM menyangkal hal itu, ia menilai responden yang diterjunkan ke lapangan bukan berasal dari kalangan korban konflik, maka dianggap 200 responden itu kurang paham dan peka dengan apa yang dirasakan oleh korban konflik. Menurutnya, responden hendaknya melibatkan korban konflik agar paham dengan kondisi di lapangan dan idu HAM bisa terangkat ke publik. Padahal masih banyak kasus pelanggaran hak sipil dari hasil penelitian dan advokasi pihak LSM di masa konflik. “Memang isu HAM menurun setelah perdamaian. Media pun tak banyak lagi memberi tempat terhadap isu HAM,” tukasnya.

Sementara itu, pengamat antropologi, Teuku Kemal Pasya Pasha mengatakan, tenggelamnya isu HAM diakibatkan instansi-instansi pemerintah maupun swasta seperti LSM sudah mabuk dengan uang. Bantuan dari BRR senilai 7,2 USD sudah mengacaukan proses politik Aceh. Oleh karena itu, seluruh aktor politik saat ini sudah pragmatis. Sebelum tahun 2005, isu perjuangan sangat kuat karena adanya krisis sistemik. "Perjuangan untuk estafet menjadi kabur akibat serangan isu ekonomi. Kejadian sekarang tak lagi realistis dan dikhawatirkan terjadi konflik lagi di masa akan datang," ungkapnya.

Sedangkan Jakfar, pengamat politik dari Unsyiah menegaskan, isu HAM harus dibangkitkan kembali. "Perdamaian tak berguna jika demokrasi tak berjalan," tambahnya

Read More......

Rabu, 05 Agustus 2009

Saatnya untuk "Bunuh Diri"

Terlampau sulit untuk mencintai tanah pusaka ini. Terlalu banyak tenaga yang mesti dikuras. Terlalu besar pengorbanan yang harus diberi. Itu apabila cinta tanah air bermakna: berbuat segala sesuatu yang diyakini perlu untuk kebaikan negeri tanpa pamrih; tak ada gaji tinggi, tak ada sanjung puji.

Sulit, karena tidak ada yang menuntut Anda untuk cinta mati kepada negeri ini seperti demikian. Banyak orang menginginkan Anda untuk hidup sebagaimana yang lain, berenang mengikuti arus, sama-sama mengabdikan diri kepada mitos modern berjuluk materialisme; pandangan-pandangan yang menjadikan kebendaan sebagai ukuran dan patron nilai.

Tak banyak, bahkan mungkin tak ada, yang menantikan seorang hero atau pahlawan. Untuk waktu sekarang, dengan keadaan yang katanya sudah kondusif, pahlawan tidak dibutuhkan. Pahlawan hanya perlu untuk dikenang setiap apel Senin. Berlainan dengan waktu prahara mengguncang tanah ini. Ketika ketakutan mencekam setiap batin. Banyak orang berharap Anda bersedia mati untuk melindungi mereka, membela kepentingan mereka. Itu dulu, ketika kaca mobil bersedia diturunkan untuk mengucap salam bagi orang rendahan yang sering dijadikan perisai. Sekarang sudah waktunya untuk hidup masing-masing, "mandiri"! Ya, bukankah setiap orang harus hidup mandiri?!

Saya teringat sebuah fragmen dari roman sejarah karya Najib Al-Kilani, "Layaliy Turkistan" (Malam-malam Turkishtan). Seorang pengawal jatuh hatinya kepada salah seorang dayang-dayang dalam istana Khuwarizmi Syah. Ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya itu kepada si gadis. Sayang, cintanya ditolak. Tak berapa lama kemudian bangsa Tatar (Mongol) menyerang kerajaan. Si gadis berubah pikiran, ia sekarang butuh pelindung. Ia pergi menjumpai pengawal, menyatakan bahwa ia telah menerima cintanya. Namun pengawal menjawab, "Duhai dinda, kedatanganmu sudah sangat terlambat. Tak ada lagi waktuku untuk itu. Seluruh pikiranku sekarang terkuras untuk persoalan membela negeri ini!"

Zaman pahlawan, zaman ketulusan, zaman pengorbanan hanya karena sebuah cinta yang dipersembahkan untuk tanah air, agaknya telah berlalu. Pahlawan "out of range". Pahlawan kata-kata yang sudah usang; tersimpan dalam kamus bahasa hanya sebagai sejarah. Tak pernah terdengar ada orang bercita-cita ingin jadi pahlawan. Kata-kata itu sendiri sekarang malah terdengar seperti suatu yang menggelikan, dan sering disambut dengan cibiran cemooh.

Istri Anda akan langsung minta cerai jika Anda mau jadi pahlawan. Anda bisa-bisa dikutuk dengan nama tujuh daratan tujuh lautan kalau pulang ke rumah dan bilang: saya hari ini bekerja untuk bangsa, tak ada keping emas yang bisa saya bawa pulang! Anda akan dituduh laki-laki tidak bertanggung jawab apabila Anda mendidik anak-anak Anda untuk menjadi pahlawan, melatih mereka jalan-jalan pengabdian kepada bangsa di berbagai bidang kehidupan.

Ketika itu, apa yang harus dilakukan? Pilihan paling "selamat" sekaligus amat menyakitkan ialah "bunuh diri". Meretakkan cinta Anda kepada tanah air sampai berkeping. Membumihanguskan seluruh pikiran dan kepedulian Anda kepada negeri sampai tak tinggal bekas. Lalu hidup dengan sikap penuh egois sejauh Anda bisa. Suatu hari kemudian, Anda berdiri di depan cermin dan tak lagi menemukan diri Anda di sana. Yang tampak cuma bayangan dari wujud yang semu. Anda tidak lagi seorang pahlawan seperti yang Anda inginkan. Anda tidak lebih dari buruh upahan, bekerja apabila gaji cocok, mencari posisi apabila pendapatan tinggi. Anda adalah …! Wujud yang sulit didefinisikan.

Ibnu Bathuthah dalam laporan perjalanannya ke Sumuththrah (Samudra/Sumatera) menyebutkan bahwa Sultan Al-Malik Azh-Zhahir gemar berjihad di jalan Allah. Penduduk Samudra mengikutinya, dan dengan suka rela.

Tidak ada yang terasa berat dari penuturan Ibnu Bathuthah tentang pendahulu negeri ini selain pernyataan bahwa mereka melakukan itu dengan suka rela. Tidak ada kepastian untung rugi dalam jihad tapi mengapa mereka melakukannya dengan suka rela? Ada apa dengan mereka? Mengapa hari ini beberapa butir keringat untuk negeri selalu ada tarif harganya, bahkan tanpa keringat pun ada harganya? Semoga Tuhan memaafkan Ibnu Bathuthah karena telah menyebut kata-kata "suka rela"!

Sudahlah Ibnu Bathuthah. Mungkin penjelajah muslim yang laporannya selalu dijadikan rujukan oleh para ahli sejarah, telah salah ingat. Tapi bagaimana halnya dengan Nabi saw dan para sahabatnya, yakni mereka yang mungkin tidak termasuk orang-orang yang kita kenang di setiap apel Senin.

Apa yang mereka cari dari seluruh gerak budaya dan peradaban rabbaniy yang mereka lakukan dalam seluruh umur hidup mereka di dalam Islam?

Mengapa mereka begitu tenteram dalam beban-beban kepahlawanan yang mereka tanggung?

Barangkali karena mereka Nabi dan para sahabatnya sementara kita bukan. Dan mungkin lagi pernyataan kita bahwa mereka adalah ikutan dan teladan kita, sesungguhnya tidak lebih dari sekadar pemanis kata, tidak sebenar-benarnya. Mungkin kita hanya takut dicap murtad kalau kita mengungkapkan yang sebenarnya lalu jenazah kita nanti tidak dilayat seperti layaknya. Jadi, kita hanya mengambil yang enteng-enteng saja dari syari'at Tuhan, hal-hal yang tidak begitu mengganggu kesenangan dan kemewahan hidup kita di dunia, lalu mencampakkan selain itu di belakang kita seperti yang dilakukan Bani Israil. Bila dibutuhkan alasan atas sikap demikian, maka jawaban populer sudah tersedia: perilaku Nabi dan para sahabat beliau sudah tidak relevan lagi dengan zaman ini!

Enaknya, memang, kita hidup dalam kepalsuan. Hidup dalam diri yang telah kita bunuh sendiri, dan berusaha semampu mungkin untuk berada berjauhan dari pandangan-pandangan hidup pahlawan. Sebab, hidupnya tidak seenak orang yang hidup dalam kematian diri. Pahlawan tentu lebih sering dikunjungi pedih dan lara, dan sudah sangat jarang orang yang siap untuk itu dalam "kondisi kondusif" seperti sekarang ini!

Keberuntungan yang diperoleh pahlawan pun tidak menggiurkan lantaran keberuntungan itu cuma pada pahlawan telah berhasil menemukan visi hidupnya yang hakiki; hidup dalam cita-cita kehidupan yang asli: meraih kemenangan di hari akhir di mana kehidupan yang sebenarnya berada. "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Al-'Ankabut: 64).

Boleh saja semua orang mencemoohkan keberuntungan yang diperolehnya itu sebagai sebuah kekonyolan, tapi bagi dirinya, keberuntungan tersebut telah memberikannya dorongan kuat untuk senantiasa berhubungan dengan Zat Penguasa sekalian alam; memberikannya kekuatan untuk terus berbuat kebaikan; memberikannya ketentraman batin yang tak terlukiskan; dan juga memberikannya suatu kepuasan sebab ikrar yang pernah diulang-ulangnya sejak waktu kecil dulu untuk dapat berguna bagi bangsa dan agama mampu ia pertahankan, tak luntur seiring waktu, dan telah ia laksanakan sejauh kemampuannya.

Keberuntungan memperoleh visi tersebut telah menjadikannya hidup, dan cuma dia yang menikmati hidup sebab tak ada kehidupan pada jiwa yang mati; jiwa yang telah dibunuh sendiri oleh pemiliknya.

Read More......

Followers